Kamis, 12 Juli 2012

perkembangan anak masa sekolah 6 - 12 tahun


A.    Tugas Perkembangan Anak Masa Sekolah 6-12 tahun
Pada masa ini anak memasuki masa belajar didalam dan diluar sekolah. Anak belajar di sekolah, tetapi membuat latihan di rumah juga mendukung hasil belajar di sekolah. Banyak aspek perilaku di bentuk melalui penguatan verbal, keteladanan, dan identifikasi. Anak-anak pada masa ini juga mempunyai tugas-tugas perkembangan (menurut Robert J. Hagvighurst) , yakni:
1.      Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan; bermain sepak bola, loncat tali, berenang.
2.      Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis
3.      Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya
4.      Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya
5.      Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, berhitung
6.      Belajar mengembangkan konsep sehari-hari
7.      Membentuk hati nurani, nilai moral, dan nilai social
8.      Memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi
9.      Membentuk sikap terhadap kelompok social dan lembaga-lemabaga[1]
Dalam perkembangan ini anak masih perlu mengembangkan pengetahuan melalui belajar. Belajar secara sistematis disekolah juga belajar mengembangkan sikap, kebiasaan di rumah ataupun lingkungan sekitarnya. Anak juga perlu di beri pujian atau penghargaan dalam prestasinya, namun pengawasan dari guru dan orang tua juga perlu untuk memunculkan sikap dan kebiasaan yang baik.
B.     perkembangan fisik, kognitif, psikologi anak masa sekolah 6-12 tahun
1.      Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik anak pada usia SD cenderung lebih lambat dan konsisten bila dibandingkan dengan masa usia dini. Rata-rata anak usia SD mengalami penambahan berat badan sekitar 2,5-3,5 kg, dan penambahan tinggi badan 5-7 cm per tahun ( F.A Hadis 1996)[2]. Oleh Karena itu periode ini juga sering disebut periode tenang sebelum menjelang masa remaja.
tetapi hal ini tidak berarti bahwa pada masa ini tidak terjadi proses pertumbuhan fisik yang berarti. Karena selama masa ini terjadi, terutama bertambahnya ukuran system rangka dan otot, serta ukuran beberapa organ tubuh. Pada saat yang sama kekuatan otot-otot secara berangsur-angsur bertambah dan gemuk bayi (babyfat) berkurang. Pertambahan kekuatan otot ini adalah karena faktor keturunan dan latihan (olah raga). Karena factor perbedaan jumlah sel-sel otot, maka pada umumnya untuk anak laki-laki lebih kuat dari pada anak perempuan. (Santrock, 1995)
2.      Perkembangan Kognitif
Seiring dengan masuknya anak kesekolah dasar, kemapuan kognitifnya urut mengalami perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, berarti dunia dan minat anak bertambah luas. Dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak.
Dalam keadaan normal, pikiran anak usia sekolah berkembang secara berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya fikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris maka pada masa ini daya pikir anak berkembang kearah berpikir kongkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat sehingga anak benar-benar berada dalam suatu stadium belajar.
Menurut teori piaget, pemikiran anak masa sekolah dasar disebut juga pemikiran operasional kongkrit (concrete operational thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek peristiwa nyata atau kongkrit.dalam upaya memahami alam sekitarnya mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indera, karena anak mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya (logikanya).
3.      Perkembangan Psikologi
Perkembangan seorang anak seperti yang telah banyak terurai di atas, tidak hanya terbatas pada perkembangan fisik saja tetapi juga pada perkembangan psikologisnya : mental, sosial dan emosional.
Menurut Teori Kolhberg
Kolhberg dalam menganalisis perkembangan anak usia 6-12 tahun juga membaginya menjadi dua tahapan :
Tahapan pertama: usia 6-10 tahun.
Dalam usia ini, ia menilai anak sudah bisa menilai hukuman atau akibat yang diterimanya berdasarkan tingkat hukuman dari kesalahan yang dilakukannnya. Sehingga ia sudah bisa mengetahui bahwa berperilaku baik akan mampu membuatnya jauh atau tak mendapatkan hukuman
Tahapan kedua: usia 10-12 tahun.
Dalam usia ini, menurut Kolhberg, ia sudah bisa berpikir bijaksana. Hal ini ditandai dengan ia berperilaku sesuai dengan aturan moral
agar disukai oleh orang dewasa, bukan karena takut dihukum. Sehingga berbuat kebaikan bagi anak usia seperti ini lebih dinilai dari tujuannya. Ia pun menjadi anak yang tahu akan aturan.